Dear Kitty,
Demi apapun aku tak sungguh sungguh meminta buah tanganmu
Meskipun aku memintanya tapi bukan itu maksudku
Aku hanya ingin tau seberapa besar perhatian yang masih kau simpan untukku
Seberapa sering dalam 24 jammu yang kau sisakan untukku
Dan jawabannya adalah tetesan air mataku
Untuk kesekian kali aku mengecewakan diriku sendiri
Aku memberikan harapan harapan palsu untukku sendiri
Memberikan kepuasan sesaat kemudian melukai diriku sendiri
Tak ada buah tangan darimu
Tak ada kata maaf
Yang ada hanya kata 'lupa'
Harapku ada penyesalan darimu namun entahlah
Itu hanya harapku
Kamis, 28 Agustus 2014
Jumat, 04 April 2014
obsesi
Dear Kitty,
Aku suka sekali berbicara cinta dan obsesi
Padahal aku sendiri tak mengerti apa bedanya
Bagaimanakah cinta itu?
Bagaimanakah obsesi itu?
Aku tak mengerti
Yang aku tahu, segalanya berubah saat berhubungan denganmu
Jantungku berdegup saat sesuatu menyangkut dirimu
Mataku dan bibirku membisu saat aku tahu itu namamu
Hati berkata 'rindu' saat aku tahu kamu maya untukku
Logikaku tak berfungsi saat aku mulai bertanya
Cintakah aku?
Sayangkah?
Obsesikah aku terhadapmu?
Aku suka sekali berbicara cinta dan obsesi
Padahal aku sendiri tak mengerti apa bedanya
Bagaimanakah cinta itu?
Bagaimanakah obsesi itu?
Aku tak mengerti
Yang aku tahu, segalanya berubah saat berhubungan denganmu
Jantungku berdegup saat sesuatu menyangkut dirimu
Mataku dan bibirku membisu saat aku tahu itu namamu
Hati berkata 'rindu' saat aku tahu kamu maya untukku
Logikaku tak berfungsi saat aku mulai bertanya
Cintakah aku?
Sayangkah?
Obsesikah aku terhadapmu?
Senin, 24 Maret 2014
Beribu Langkah
Dear Kitty,
Bolehkah aku tertawa?
Aku ingin tertawa
Tertawa tepat dimukaku sendiri
Menertawakan beribu ribu ribu kebodohanku
Menertawakan kekalahanku
Kalah telak
Kamu jauh di depanku, berlari meninggalkanku
Jauh
Aku tak mungkin menggapaimu lagi
Tak akan sanggup, aku sudah jauh di belakangku
Langkahku begitu pelan dan berat
Bersama seseorang di sampingku yang ikut terseok jalannya karenaku
Bersamanya aku ingin mengejarmu
Tapi aku sadar kamu jauh meninggalkanku
Bolehkah aku menangis, menangisimu lagi lagi lagi lagi?
Setiap hari?
Bolehkah aku tertawa?
Aku ingin tertawa
Tertawa tepat dimukaku sendiri
Menertawakan beribu ribu ribu kebodohanku
Menertawakan kekalahanku
Kalah telak
Kamu jauh di depanku, berlari meninggalkanku
Jauh
Aku tak mungkin menggapaimu lagi
Tak akan sanggup, aku sudah jauh di belakangku
Langkahku begitu pelan dan berat
Bersama seseorang di sampingku yang ikut terseok jalannya karenaku
Bersamanya aku ingin mengejarmu
Tapi aku sadar kamu jauh meninggalkanku
Bolehkah aku menangis, menangisimu lagi lagi lagi lagi?
Setiap hari?
Minggu, 16 Maret 2014
Hari-hari
Dear Kitty,
Entah apa yang terjadu padaku beberapa hari ini
Rasanya aku selalu merindukanmu
Terkadang rasa rindunya sama seperti dulu
Namun terkadang juga berbeda, sampai aku tak mengenalinya lagi
Terkadang aku sudah merasa melepas dan lepas darimu
Namun terkadang aku kembali ingin menggengam erat tanganmu
Berkali-kali aku ingin menghubungimu
Namun berkali-kali aku mengurungkannya
Hari-hari ini terasa berat
Berat karena tanpamu
Berat karena aku tak ingin mengingatmu
Hari-hari ini aku semakin merindukanmu
Rindu hari-hari bersamamu
Entah apa yang terjadu padaku beberapa hari ini
Rasanya aku selalu merindukanmu
Terkadang rasa rindunya sama seperti dulu
Namun terkadang juga berbeda, sampai aku tak mengenalinya lagi
Terkadang aku sudah merasa melepas dan lepas darimu
Namun terkadang aku kembali ingin menggengam erat tanganmu
Berkali-kali aku ingin menghubungimu
Namun berkali-kali aku mengurungkannya
Hari-hari ini terasa berat
Berat karena tanpamu
Berat karena aku tak ingin mengingatmu
Hari-hari ini aku semakin merindukanmu
Rindu hari-hari bersamamu
Sabtu, 15 Maret 2014
Happy 5th Anniversary
Dear Kitty,
15 maret 2014
Lima tahun kita, seharusnya
Tapi tak mungkin lagi
Tak akan pernah terjadi
Kini semuanya sudah berjalan sendiri
Kau dengan jalanmu, begitu juga aku
Kau dengan pemikiranmu sendiri dan aku?
Aku masih memikirkanmu, tak peduli siapa yang bersamaku
Aku ingin merayakannya bersamamu
Disampingmu
Aku ingin tertawa bersamamu
Dalam pelukmu
Aku ingin mendapatkan kecupanmu
Penuh sayangmu
Selamat lima tahun, semoga akan ada enam tahun untuk kita
Semoga akan ada ucapan enam tahun darimu tahun depan
Aku menyayangimu, apapun yang telah terjadi
Apapun yang terjadi dan yang akan terjadi
Selamat lima tahun, aku sayang kamu
Kurniawan Agung Prayogo
15 maret 2014
Lima tahun kita, seharusnya
Tapi tak mungkin lagi
Tak akan pernah terjadi
Kini semuanya sudah berjalan sendiri
Kau dengan jalanmu, begitu juga aku
Kau dengan pemikiranmu sendiri dan aku?
Aku masih memikirkanmu, tak peduli siapa yang bersamaku
Aku ingin merayakannya bersamamu
Disampingmu
Aku ingin tertawa bersamamu
Dalam pelukmu
Aku ingin mendapatkan kecupanmu
Penuh sayangmu
Selamat lima tahun, semoga akan ada enam tahun untuk kita
Semoga akan ada ucapan enam tahun darimu tahun depan
Aku menyayangimu, apapun yang telah terjadi
Apapun yang terjadi dan yang akan terjadi
Selamat lima tahun, aku sayang kamu
Kurniawan Agung Prayogo
Kamis, 13 Maret 2014
nyamanku sejauh ini
Dear Kitty,
Sejauh ini belum ada yg bisa menggantikan rasa nyamanku
Sdikit pun belum
Sepertinya 4 tahun yang pernah kulewati bersamamu belum ada yang bisa menggantikan
Siapapun itu
Berapa kali pun ku mencoba
Sekeras apapun aku berjuang
Belum ada yang bisa
Tetap kamu pusaran nyamanku
Kamu boleh tertawa
Kamu boleh kecewa
Tapi ini adanya,
Kamu nyamanku
Selalu
I miss you
Sejauh ini belum ada yg bisa menggantikan rasa nyamanku
Sdikit pun belum
Sepertinya 4 tahun yang pernah kulewati bersamamu belum ada yang bisa menggantikan
Siapapun itu
Berapa kali pun ku mencoba
Sekeras apapun aku berjuang
Belum ada yang bisa
Tetap kamu pusaran nyamanku
Kamu boleh tertawa
Kamu boleh kecewa
Tapi ini adanya,
Kamu nyamanku
Selalu
I miss you
Sabtu, 01 Maret 2014
Lebih dari Aku tahu
Dear Kitty,
Lebih dari setahun dan aku masih menginginkanmu
Lebih dari satu dan aku hanya ingin kamu
Lebih dari rindu aku ingin menemuimu
Lebih dari hangat aku ingin memelukmu
Lebih dari mesra aku ingin mengecupmu
Lebih dari dia aku menyayangimu
Lebih dari paham aku mengerti kamu
Aku tahu tak akan lagi ada ruang untukku
Aku tahu aku hanya seonggok masa lalu
Aku tahu tak akan ada lagi rindu untukku
Aku tahu tak pantas lagi aku buatmu
Aku tahu Aku tahu Aku tahu
Lebih dari itu kau tak lagi menyayangiku
Aku tahu lebih dari itu
Lebih dari setahun dan aku masih menginginkanmu
Lebih dari satu dan aku hanya ingin kamu
Lebih dari rindu aku ingin menemuimu
Lebih dari hangat aku ingin memelukmu
Lebih dari mesra aku ingin mengecupmu
Lebih dari dia aku menyayangimu
Lebih dari paham aku mengerti kamu
Aku tahu tak akan lagi ada ruang untukku
Aku tahu aku hanya seonggok masa lalu
Aku tahu tak akan ada lagi rindu untukku
Aku tahu tak pantas lagi aku buatmu
Aku tahu Aku tahu Aku tahu
Lebih dari itu kau tak lagi menyayangiku
Aku tahu lebih dari itu
Rabu, 31 Juli 2013
namamu
Pernah gak ada disuatu titik dimana kamu berpikir kamu uda
berhasil nglepasin dia
Dan tiba-tibaaa ‘jengjeeeng’ titik itu sendiri hilang
Kamu kembali berusaha mencari
Mencari titik itu dan mencari dia
Aku ga pernah kuat
Aku sok kuat iya
Bahkan cuman buat baca namamu
Kalo yang lain dibaca sambil lalu
Kalo punyamu pasti penuh haru
Tapi ada yang aneh
Orang bilang lagu akan mengembalikan ingatanmu
Mengembalikan rasamu
Tapi aku? Berapa kali aku mendengarkan lagu-lagu untukmu tak
pernah ada yang menyentuhku
Tapi sebuah nama langsung menamparku
Menarikku perasaanku begitu kasar
Memaksaku mengingatku
Dan disitulah, titikku hilang
Aku kembali pada suatu posisi
Aku merindukanmu
Perlukah ku tuliskan namamu untuk semakin mengingatmu?
Untuk semakin menampar harga diriku?
Perlukah aku berlari sekali lagi mengejarmu?
Membunuh semua rasa maluku?
Perlukah?
Sungguh aku ingin menyebut namamu, sekarang dan selamanya
Selasa, 02 Juli 2013
kamu
Dear Kitty,
uda ga kehitung berapa kali aku buka blog dan siap mau nulis tapi akhirnya?
ketutup lagi
bete!
rasanya ga tau mau nulis apa
padahal banyak banget yang mau aku tulis
buat kamu, buat dia, bahkan buat dia yang ga kebayang bakal ikut ditulis haha
konyol
sekali lagi aku kangen kamu
ya cuman kamu yang aku kangenin
seseorang yang ga pernah ngangenin aku
seseorang yang ga pernah bener-bener nglepasin aku juga
tapi seseorang yang bener-bener ninggalin aku
seseorang yang sengaja banget jadi dingin ke aku
seseorang yang sengaja banget ga perhatiin aku
tapi selalu ada pas aku nyari
selalu, biarpun ribet
uda berapa lama aku ga nyapa kamu langsung? biarpun cuman lewat telpon
uda berapa lama aku ga marah-marah gara-gara ga ada whatsapp, chat, sms dari kamu?
lama kayaknya
kangen
tapi jadi eneg kalo disuruh sms atau nelpon kamu
aslinya pengen banget
sakit tiap kali liat namamu di daftar kontak whatsapp, chat, atau sekedar liat kamu di timeline
syirik banget liat orang-orang yang bisa komunikasi sama kamu
syirik banget sama hal-hal yang kamu postingin di media sosialmu
oke, masalah terbesarku ke kamu ya emang jealous berlebihan
it's fine
aku sayang kamu, dengan caraku
kamu
aku dulu ga suka setengah mati sama kamu
pengen mati kalo ada kamu
tapi aku tau sih kamu sekarang bukan kamu yang aku tau awal-awal
tapi kamu temenku
dan aku uda janji sama diriku sendiri ga mau sama temen sendiri
aku tau kamu juga gitu kan?
kamu ga mau sama temen sendiri kan?
ga mau nyakitin dia juga kan?
so, berhentilah seperti ini
sebelum banyak yang salah prasangka bahkan perasaan kita sendiri
kamu tau?
aku sayang kamu, sebagai temanku
uda ga kehitung berapa kali aku buka blog dan siap mau nulis tapi akhirnya?
ketutup lagi
bete!
rasanya ga tau mau nulis apa
padahal banyak banget yang mau aku tulis
buat kamu, buat dia, bahkan buat dia yang ga kebayang bakal ikut ditulis haha
konyol
sekali lagi aku kangen kamu
ya cuman kamu yang aku kangenin
seseorang yang ga pernah ngangenin aku
seseorang yang ga pernah bener-bener nglepasin aku juga
tapi seseorang yang bener-bener ninggalin aku
seseorang yang sengaja banget jadi dingin ke aku
seseorang yang sengaja banget ga perhatiin aku
tapi selalu ada pas aku nyari
selalu, biarpun ribet
uda berapa lama aku ga nyapa kamu langsung? biarpun cuman lewat telpon
uda berapa lama aku ga marah-marah gara-gara ga ada whatsapp, chat, sms dari kamu?
lama kayaknya
kangen
tapi jadi eneg kalo disuruh sms atau nelpon kamu
aslinya pengen banget
sakit tiap kali liat namamu di daftar kontak whatsapp, chat, atau sekedar liat kamu di timeline
syirik banget liat orang-orang yang bisa komunikasi sama kamu
syirik banget sama hal-hal yang kamu postingin di media sosialmu
oke, masalah terbesarku ke kamu ya emang jealous berlebihan
it's fine
aku sayang kamu, dengan caraku
kamu
aku dulu ga suka setengah mati sama kamu
pengen mati kalo ada kamu
tapi aku tau sih kamu sekarang bukan kamu yang aku tau awal-awal
tapi kamu temenku
dan aku uda janji sama diriku sendiri ga mau sama temen sendiri
aku tau kamu juga gitu kan?
kamu ga mau sama temen sendiri kan?
ga mau nyakitin dia juga kan?
so, berhentilah seperti ini
sebelum banyak yang salah prasangka bahkan perasaan kita sendiri
kamu tau?
aku sayang kamu, sebagai temanku
Sabtu, 15 Juni 2013
Bismillah, Berjuang, Berserah!
Bismillah, Berjuang, Berserah!!!
AKUNTANSI UGM
MANAJEMEN UGM
ILMU EKONOMI UGM
June 18th, 2013
Senin, 06 Mei 2013
maaf maaf maaf
Dear Kitty
aku tak pernah bisa lepas dari bayangmu
tak pernah bisa
dan tak pernah ingin
maaf
aku menyakitimu
menyakitinya
menyakiti mereka
maaf
aku tak pernah bisa lepas dari bayangmu
tak pernah bisa
dan tak pernah ingin
maaf
aku menyakitimu
menyakitinya
menyakiti mereka
maaf
Minggu, 03 Maret 2013
Perasaanku
Dear Kitty,
Entah apa yang kurasakan sekarang,
rindukah?
aku bahkan enggan menyebutnya rindu
terasa berlebihan, karena harga diriku kini merasa terlalu mahal mengakuinya lagi
sayangkah?
aku bahkan tidak lagi yakin dengan kata-kata itu lagi
terasa sangat berlebihan
terlalu lelah, enggan, dan bosan dengan kata-kata itu
Jadi apa ini semua?
aku mengharapkan dia kembali
tapi tidak semua dalam diriku sepakat dia kembali
ada sebagian dari diriku mencegahnya, menolaknya, dan ingin mengabaikannya
tapi, aku menginginkannya. bahkan aku sangat menekankan keinginan itu
Jadi ini apa?
Mungkinkah secara perlahan perasaan itu mulai kabur?
Mungkinkah kerealistisan telah berkembang?
Entah apa yang kurasakan sekarang,
rindukah?
aku bahkan enggan menyebutnya rindu
terasa berlebihan, karena harga diriku kini merasa terlalu mahal mengakuinya lagi
sayangkah?
aku bahkan tidak lagi yakin dengan kata-kata itu lagi
terasa sangat berlebihan
terlalu lelah, enggan, dan bosan dengan kata-kata itu
Jadi apa ini semua?
aku mengharapkan dia kembali
tapi tidak semua dalam diriku sepakat dia kembali
ada sebagian dari diriku mencegahnya, menolaknya, dan ingin mengabaikannya
tapi, aku menginginkannya. bahkan aku sangat menekankan keinginan itu
Jadi ini apa?
Mungkinkah secara perlahan perasaan itu mulai kabur?
Mungkinkah kerealistisan telah berkembang?
Jumat, 15 Februari 2013
Peluk - RECTOVERSO
Dear Kitty,
Tiba-tiba aja keinget salah satu cerita pendek di buku Rectoverso yang alhamdulillah sekarang udah dijadikan film juga, aah ga sabar pengen nonton filmnya tapi ga atau sama siapa *modus
Ada keanehan yang menyembul keluar dan kini menguasai pikiranku, yang membuat aku berjarak dengan diriku sendiri dan memunculkan satu tanya: mengapa kulakukan ini?
Keanehan lain menyusul, yakni jawaban muncul dengan sendirinya tanpa proses berpikir: memang ini jalannya. Itukah yang dinamakan firasat? Menahun sudah aku tahu, hari ini akan tiba. Tapi bagaimana bisa pernah kujelaskan? Aku menyayangimu seperti kusayangi diriku sendiri. Bagaimana bisa kita ingin pisah dengan diri sendiri?
Barangkali itulah mengapa kematian ada, aku menduga. Mengapa kita mengenal konsep berpisah dan bersua. Terkadang kita memang harus berpisah dengan diri kita sendiri; dengan proyeksi. Diri yang telah menjelma menjadi manusia yang kita cinta.
Sedari tadi kamu seperti orang kesakitan, merangkul erat badanmu sendiri dengan mulut terkatup rapat dan rahang mengencang. Aku ingin bilang, aku paham kenapa kamu sakit. Namun tak sepatah kata pun keluar. Aku ingin bilang, aku sakit melihat kamu sakit. Namun bungkusan udara ini memberangus mulut kita berdua.
Mengapa kata-kata justru hilang pada saat seperti ini? Saat kulihat kamu butuh penghiburan, nasihat bijak, atau humor segar agar kesedihan ini beroleh penawar? Kemampuan kita berkata-kata menguap. Kemampuanku melucu lenyap. Kebisuan menjadi hadiah kebersamaan kita bertahun-tahun. Aku ingin bilang, berbarengan dengan makin pilunya hati ini, ada keindahan yang kurasakan, dan aku tak mengerti mengapa bisa demikian.
Pandangan mata kita yang sedari tadi berlari-lari mulai berani menemukan satu sama lain. Rasanya kita sama-sama tahu, entah kapan lagi tatapan seperti ini terjalin. Tak mungkin kulupa caramu memandangku, dan tak mungkin kau lupa bagaimana semua ini bermula. Aneh. Pada saat kita hendak berbalik dan menutup pintu, mendadak ruang yang kita tinggalkan memunculkan keindahan yang selama ini entah bersembunyi di mana.
Tanganmu bergerak bimbang seperti ingin meraih tanganku, tapi kau urungkan niat itu. Dua manusia yang sudah bercinta bertahun-tahun dan merasakan setiap jengkal kulit masing-masing, mendadak enggan untuk bersentuhan.
"Habis ini lalu apa? Kamu sendirian. Aku sendirian. Buat apa? Kenapa kita tidak berdua lagi saja?"
Suaramu pertama dalam setengah jam terakhir.
Mulutku refleks membuka, ingin menjawab. Tapi tak ada bunyi keluar selain tiupan karbondioksida. Aku tak tahu jawabannya. Aku tidak tahu sesudah ini lantas terjadi apa. Aku tidak tahu kenapa dua manusia yang saling sayang harus kembali berjalan sendiri-sendiri.
Namun kurasa hatimu tahu, seperti hatiku pun tahu. Jika malam ini kita memutuskan untuk bersama, itu karena kita tidak tahu bagaimana menangani kesendirian. Aku tidak ingin bersamamu cuma karena enggan sendiri. Kau tak layak untuk itu. Seseorang semestinya memutuskan bersama orang lain karena meenemukan keutuhannya tercermin, bukan ketakutannya akan sepi.
"Apa artinya cinta yang tidak lagi sama, yang kamu sebut-sebut sejak tadi itu? Memang cinta itu ada berapa macam?" tanyamu dengan nada meninggi. Air mata yang tadi sudah reda tampak siap-siap melancarkan serangan lanjutan. Entah berapa gelontor lagi yang bakal tiba. Mendadak aku lelah karena harus menjelaskan variasi cinta macam pedagang yang mempresentasikan produk.
Aku tidak tahu cinta punya berapa macam varian. Kau harus bertanya langusng pada hatiku, karena dialah yang satu hari menutup dan mengucap: "cukup". Dia berkata: "aku tidak lagi jatuh, jalan ini sudah jadi jalan lurus. Teruskan maka aku mati, karena takdirku adalah jatuh. Bukan berjalan di setapak datar apalagi mendaki."
Hati adalah air, aku lantas menyimpulkan. Baru mengalir jika menggulir dari tempat tinggi ke tempat lebih rendah. Ada gravitasi yang secara alamiah menggiringnya. Dan jika peristiwa jatuh hati diumpamakan air terjun, maka bersamamu aku sudah merasakan terjun, jumpalitan, lompat indah. Berakali-kali. Namun kanal hidup membawa aliran itu ke sebuah tempat datar, dan hatiku berhenti mengalir. Siapa yang mengatur itu? Aku pun tak tahu. Barangkali kita berdua, tanpa kita sadari. Barangkali hidup itu sendiri, sehingga sia-sia menyalahkan siapa-siapa.
Aku ingin mengalir. Hatiku belum mau mati. Aliran ini harus kembali memecah dua agar kita sama-sama bergerak. Sebelum kita terlalu jengah dan akhirnya pisah dalam amarah.
Jadi, aku tidak tahu cinta itu terdiri dari berapa macam. Yang kutahu, cinta ini tersendat, dan hatiku seperti mau mati pengap. Kendati kusayang kamu lebih dari siapa pun yang kutahu. Kendati bersamamu senyaman berselimut pada saat hujan. Aku aman. Namun aku mengerontang kekeringan. Dan kini kutersadar, aku butuh hujan itu. Lebih dari apa pun.
"Kamu akan menyesal..." gumammu lagi.
Mungkin. Kini kita tak mungkin tahu.
"Enam tahun. Kita akan buang enam tahun itu begitu saja?" Retorikal dan getir, kamu bertanya.
Kamu bukan tisu sekali pakai. Kita tidak mungkin membuang apa pun jika kita percaya hati bukan diperuntukkan untuk menyimpan. Otakku merekam dan menyimpan kamu, kita, dan enam tahun ini. Hati tidak pernah menyimpan apa-apa. Ia menyalurkan segalanya. Mengalir, hanya mengalir. Namun kata-kata membeku di ujung mulutku seperti stalaktit dan stalagmit. Tampak dinamis dalam konsep tapi tak bergerak.
"Ngomong, dong!" Tiba-tiba suaramu meledak murka.
Bentakanmu seperti aba-aba perwira yang menggerakkan kedua tanganku untuk tahu-tahu merengkuhmu. Refleks yang tak kusangka akan muncul.
Tubuhmu berontak. Kurasakan amarahmu, sakitmu. Kupererat rengkuhanku. Tanganmu meronta, berusaha melepaskan diri. Wajahmu kautarik menjauh. Segala macam cara kaukerahkan untuk bebas dari pelukanku. Namun aku bertahan.
Rasakan, bisikku dalam hati. Panas tubuh kita berdua mencairkan apa yang sudah beku bertahun-tahun. Rasakan betapa lamanya kita terlelap dan membiarkan aliran itu padam. Begitu terbiasa kita memandang taring-taring es itu hingga menjadi layaknya aksesori ruangan, padahal kita sudah mau mati kedinginan, kekeringan. Kamu tak layak didera. Kita tak layak disiksa.
Berangsur, tubuhmu tenang. Otot-ototmu yang tegang mulai melemas, lelah meronta, dan lunglai pasrah dalam pelukanku. Kau mulai menangis. Aku mulai menangis. Lenganmu perlahan mendaki dan balik mendekapku. Kita resmi berpelukan.
Cukup lama tubuh kita terpaut hingga kata-kata yang menggantung beku mulai cair dan mengalir dalam darah kita masing-masing. Hatimu tahu, seperti hatiku pun tahu. Nadi kita mendenyutkan pesan-pesan yang tahunan sudah menanti untuk bersuara. Inilah keindahan yang kumaksud. Kejujuran tanpa suara yang tak menyisakan ruang untuk dusta. Sakit ini tak terobati dan bukan untuk diobati. Dan itu jugalah keindahan yang kumaksud. Rasakan semua, demikian pinta sang hati. Amarah atau asmara, kasih atau pedih, segalanya indah jika memang tepat pada waktunya. Dan inilah hatiku, pada dini hari yang hening. Bening. Apa adanya,.
Hati-hati, lenganku melonggar, melepaskan tubuhmu. Aku tahu aku telah dimengerti, meski sekali saja pelukanku.
Aliran ini memecah. Indah. Meski aku berbalik pergi dan tak kembali."
Mewakili perasaanmukah cerita itu? Itukah yang kamu rasakan saat itu dan kini? Itukah alasanmu sangat-sangat menghindariku? Maukah kamu menjawabnya?
Tiba-tiba aja keinget salah satu cerita pendek di buku Rectoverso yang alhamdulillah sekarang udah dijadikan film juga, aah ga sabar pengen nonton filmnya tapi ga atau sama siapa *modus
"Peluk
Ada keanehan yang menyembul keluar dan kini menguasai pikiranku, yang membuat aku berjarak dengan diriku sendiri dan memunculkan satu tanya: mengapa kulakukan ini?
Keanehan lain menyusul, yakni jawaban muncul dengan sendirinya tanpa proses berpikir: memang ini jalannya. Itukah yang dinamakan firasat? Menahun sudah aku tahu, hari ini akan tiba. Tapi bagaimana bisa pernah kujelaskan? Aku menyayangimu seperti kusayangi diriku sendiri. Bagaimana bisa kita ingin pisah dengan diri sendiri?
Barangkali itulah mengapa kematian ada, aku menduga. Mengapa kita mengenal konsep berpisah dan bersua. Terkadang kita memang harus berpisah dengan diri kita sendiri; dengan proyeksi. Diri yang telah menjelma menjadi manusia yang kita cinta.
Sedari tadi kamu seperti orang kesakitan, merangkul erat badanmu sendiri dengan mulut terkatup rapat dan rahang mengencang. Aku ingin bilang, aku paham kenapa kamu sakit. Namun tak sepatah kata pun keluar. Aku ingin bilang, aku sakit melihat kamu sakit. Namun bungkusan udara ini memberangus mulut kita berdua.
Mengapa kata-kata justru hilang pada saat seperti ini? Saat kulihat kamu butuh penghiburan, nasihat bijak, atau humor segar agar kesedihan ini beroleh penawar? Kemampuan kita berkata-kata menguap. Kemampuanku melucu lenyap. Kebisuan menjadi hadiah kebersamaan kita bertahun-tahun. Aku ingin bilang, berbarengan dengan makin pilunya hati ini, ada keindahan yang kurasakan, dan aku tak mengerti mengapa bisa demikian.
Pandangan mata kita yang sedari tadi berlari-lari mulai berani menemukan satu sama lain. Rasanya kita sama-sama tahu, entah kapan lagi tatapan seperti ini terjalin. Tak mungkin kulupa caramu memandangku, dan tak mungkin kau lupa bagaimana semua ini bermula. Aneh. Pada saat kita hendak berbalik dan menutup pintu, mendadak ruang yang kita tinggalkan memunculkan keindahan yang selama ini entah bersembunyi di mana.
Tanganmu bergerak bimbang seperti ingin meraih tanganku, tapi kau urungkan niat itu. Dua manusia yang sudah bercinta bertahun-tahun dan merasakan setiap jengkal kulit masing-masing, mendadak enggan untuk bersentuhan.
"Habis ini lalu apa? Kamu sendirian. Aku sendirian. Buat apa? Kenapa kita tidak berdua lagi saja?"
Suaramu pertama dalam setengah jam terakhir.
Mulutku refleks membuka, ingin menjawab. Tapi tak ada bunyi keluar selain tiupan karbondioksida. Aku tak tahu jawabannya. Aku tidak tahu sesudah ini lantas terjadi apa. Aku tidak tahu kenapa dua manusia yang saling sayang harus kembali berjalan sendiri-sendiri.
Namun kurasa hatimu tahu, seperti hatiku pun tahu. Jika malam ini kita memutuskan untuk bersama, itu karena kita tidak tahu bagaimana menangani kesendirian. Aku tidak ingin bersamamu cuma karena enggan sendiri. Kau tak layak untuk itu. Seseorang semestinya memutuskan bersama orang lain karena meenemukan keutuhannya tercermin, bukan ketakutannya akan sepi.
"Apa artinya cinta yang tidak lagi sama, yang kamu sebut-sebut sejak tadi itu? Memang cinta itu ada berapa macam?" tanyamu dengan nada meninggi. Air mata yang tadi sudah reda tampak siap-siap melancarkan serangan lanjutan. Entah berapa gelontor lagi yang bakal tiba. Mendadak aku lelah karena harus menjelaskan variasi cinta macam pedagang yang mempresentasikan produk.
Aku tidak tahu cinta punya berapa macam varian. Kau harus bertanya langusng pada hatiku, karena dialah yang satu hari menutup dan mengucap: "cukup". Dia berkata: "aku tidak lagi jatuh, jalan ini sudah jadi jalan lurus. Teruskan maka aku mati, karena takdirku adalah jatuh. Bukan berjalan di setapak datar apalagi mendaki."
Hati adalah air, aku lantas menyimpulkan. Baru mengalir jika menggulir dari tempat tinggi ke tempat lebih rendah. Ada gravitasi yang secara alamiah menggiringnya. Dan jika peristiwa jatuh hati diumpamakan air terjun, maka bersamamu aku sudah merasakan terjun, jumpalitan, lompat indah. Berakali-kali. Namun kanal hidup membawa aliran itu ke sebuah tempat datar, dan hatiku berhenti mengalir. Siapa yang mengatur itu? Aku pun tak tahu. Barangkali kita berdua, tanpa kita sadari. Barangkali hidup itu sendiri, sehingga sia-sia menyalahkan siapa-siapa.
Aku ingin mengalir. Hatiku belum mau mati. Aliran ini harus kembali memecah dua agar kita sama-sama bergerak. Sebelum kita terlalu jengah dan akhirnya pisah dalam amarah.
Jadi, aku tidak tahu cinta itu terdiri dari berapa macam. Yang kutahu, cinta ini tersendat, dan hatiku seperti mau mati pengap. Kendati kusayang kamu lebih dari siapa pun yang kutahu. Kendati bersamamu senyaman berselimut pada saat hujan. Aku aman. Namun aku mengerontang kekeringan. Dan kini kutersadar, aku butuh hujan itu. Lebih dari apa pun.
"Kamu akan menyesal..." gumammu lagi.
Mungkin. Kini kita tak mungkin tahu.
"Enam tahun. Kita akan buang enam tahun itu begitu saja?" Retorikal dan getir, kamu bertanya.
Kamu bukan tisu sekali pakai. Kita tidak mungkin membuang apa pun jika kita percaya hati bukan diperuntukkan untuk menyimpan. Otakku merekam dan menyimpan kamu, kita, dan enam tahun ini. Hati tidak pernah menyimpan apa-apa. Ia menyalurkan segalanya. Mengalir, hanya mengalir. Namun kata-kata membeku di ujung mulutku seperti stalaktit dan stalagmit. Tampak dinamis dalam konsep tapi tak bergerak.
"Ngomong, dong!" Tiba-tiba suaramu meledak murka.
Bentakanmu seperti aba-aba perwira yang menggerakkan kedua tanganku untuk tahu-tahu merengkuhmu. Refleks yang tak kusangka akan muncul.
Tubuhmu berontak. Kurasakan amarahmu, sakitmu. Kupererat rengkuhanku. Tanganmu meronta, berusaha melepaskan diri. Wajahmu kautarik menjauh. Segala macam cara kaukerahkan untuk bebas dari pelukanku. Namun aku bertahan.
Rasakan, bisikku dalam hati. Panas tubuh kita berdua mencairkan apa yang sudah beku bertahun-tahun. Rasakan betapa lamanya kita terlelap dan membiarkan aliran itu padam. Begitu terbiasa kita memandang taring-taring es itu hingga menjadi layaknya aksesori ruangan, padahal kita sudah mau mati kedinginan, kekeringan. Kamu tak layak didera. Kita tak layak disiksa.
Berangsur, tubuhmu tenang. Otot-ototmu yang tegang mulai melemas, lelah meronta, dan lunglai pasrah dalam pelukanku. Kau mulai menangis. Aku mulai menangis. Lenganmu perlahan mendaki dan balik mendekapku. Kita resmi berpelukan.
Cukup lama tubuh kita terpaut hingga kata-kata yang menggantung beku mulai cair dan mengalir dalam darah kita masing-masing. Hatimu tahu, seperti hatiku pun tahu. Nadi kita mendenyutkan pesan-pesan yang tahunan sudah menanti untuk bersuara. Inilah keindahan yang kumaksud. Kejujuran tanpa suara yang tak menyisakan ruang untuk dusta. Sakit ini tak terobati dan bukan untuk diobati. Dan itu jugalah keindahan yang kumaksud. Rasakan semua, demikian pinta sang hati. Amarah atau asmara, kasih atau pedih, segalanya indah jika memang tepat pada waktunya. Dan inilah hatiku, pada dini hari yang hening. Bening. Apa adanya,.
Hati-hati, lenganku melonggar, melepaskan tubuhmu. Aku tahu aku telah dimengerti, meski sekali saja pelukanku.
Aliran ini memecah. Indah. Meski aku berbalik pergi dan tak kembali."
Mewakili perasaanmukah cerita itu? Itukah yang kamu rasakan saat itu dan kini? Itukah alasanmu sangat-sangat menghindariku? Maukah kamu menjawabnya?
Kamis, 14 Februari 2013
Back Again! Freak!
Dear Kitty
hellooo Kitty. Wah lama sekali tidak jumpa ya ampun ya ampuuuuun. udah hampir setahun kali yaaa. Ya AMPUUUN.
Well, salah satu tujuan dan alasanku kembali blogging adalah mencurahkan unek-unek. Kamu taulah pasti its about who and what. Bukannya itu satu-satu alasan bikin blog? hihi
Kitty, aku suka ga paham aja sama orang-orang yang suka ngeribetin perasaan sayangnya sendiri. Kadang aku mikir apa itu sebenarnya cuman aku doang yang berpikir kalo dia masih sayang? Atau sebenarnya emang dia masih sayang tapi gak mau ngaku? Ga tau kenapa aku yakin banget dia masih sayang demi apapun. Tapi dia berusaha nutupin semuanya. sayangnya kalo berdasar hasil nonton film, drama, dan baca novel; orang-orang kayak aku, yang suka ngerasa mantan masih sayang, adalah para pecundang karena ga ngebuka mata. Karena saking ga pengennya kehilangan si mantan dia memanipulasi otak, pemikiran, dan perasaannya sendiri dengan cara mempercayai sesuatu yang sia-sia, yaitu "Aku percaya dan ngerasa banget kalo Dia masih sayang aku. Kamu cuman capek dan butuh sedikit waktu. Kalo semuanya udah baik-baik aja, aku yakin kamu bakal kepikiran aku lagi. Karena apa? Cuman aku yang ngerti kamu". Apa aku orang yang kayak gitu? Oh My, aku ga pengen jadi orang freak. Well, nulis hal-hal kayak gini di blog aja udah bikin freak, enggak, tapi sekedar ngegalauin orang yang sama setiap harinya aja udah freak. Oh come on Dea, ini 2013 sampe kapan sih kamu mau galaaaaau. Jaman gitu De? CKCK. Oke Saya Memang Ababil dan masih sayang mantan banget. Anda mau ketawa? Oh silahkan!
Well Kitty, aku bener-bener ngerasa freak! Buat yang ga sengaja ngebaca blog ini saya minta maaf, saya lagi random banget
hellooo Kitty. Wah lama sekali tidak jumpa ya ampun ya ampuuuuun. udah hampir setahun kali yaaa. Ya AMPUUUN.
Well, salah satu tujuan dan alasanku kembali blogging adalah mencurahkan unek-unek. Kamu taulah pasti its about who and what. Bukannya itu satu-satu alasan bikin blog? hihi
Kitty, aku suka ga paham aja sama orang-orang yang suka ngeribetin perasaan sayangnya sendiri. Kadang aku mikir apa itu sebenarnya cuman aku doang yang berpikir kalo dia masih sayang? Atau sebenarnya emang dia masih sayang tapi gak mau ngaku? Ga tau kenapa aku yakin banget dia masih sayang demi apapun. Tapi dia berusaha nutupin semuanya. sayangnya kalo berdasar hasil nonton film, drama, dan baca novel; orang-orang kayak aku, yang suka ngerasa mantan masih sayang, adalah para pecundang karena ga ngebuka mata. Karena saking ga pengennya kehilangan si mantan dia memanipulasi otak, pemikiran, dan perasaannya sendiri dengan cara mempercayai sesuatu yang sia-sia, yaitu "Aku percaya dan ngerasa banget kalo Dia masih sayang aku. Kamu cuman capek dan butuh sedikit waktu. Kalo semuanya udah baik-baik aja, aku yakin kamu bakal kepikiran aku lagi. Karena apa? Cuman aku yang ngerti kamu". Apa aku orang yang kayak gitu? Oh My, aku ga pengen jadi orang freak. Well, nulis hal-hal kayak gini di blog aja udah bikin freak, enggak, tapi sekedar ngegalauin orang yang sama setiap harinya aja udah freak. Oh come on Dea, ini 2013 sampe kapan sih kamu mau galaaaaau. Jaman gitu De? CKCK. Oke Saya Memang Ababil dan masih sayang mantan banget. Anda mau ketawa? Oh silahkan!
Well Kitty, aku bener-bener ngerasa freak! Buat yang ga sengaja ngebaca blog ini saya minta maaf, saya lagi random banget
Jumat, 12 Oktober 2012
Jealous
Dear Kitty
wajar ga sih kalo aku jealous sama temen-temennya?
dikit aja
enggak sih, bohong banget
aku jealous
BANYAK BANGEEEEEEEEEEEEEEET!!!
bego banget sih kamu De!!
ga pernah belajar dari pengalaman
wajar ga sih kalo aku jealous sama temen-temennya?
dikit aja
enggak sih, bohong banget
aku jealous
BANYAK BANGEEEEEEEEEEEEEEET!!!
bego banget sih kamu De!!
ga pernah belajar dari pengalaman
BEGO!!
Minggu, 27 Mei 2012
Senin, 21 Mei 2012
rindu
Dear Kitty
terlalu banyak kenangan yang tercipta
dan aku rindu padamu hari ini sungguh
aku berhalusinasi tentangmu
sungguh aku rindu
aku salah?
sangat!
maafkan aku
terlalu banyak kenangan yang tercipta
dan aku rindu padamu hari ini sungguh
aku berhalusinasi tentangmu
sungguh aku rindu
aku salah?
sangat!
maafkan aku
Sabtu, 05 Mei 2012
seujung jari
Dear Kitty
haaaaaaash!
bodo!
peduli apa kamu sama aku?
haha, kamu emang gak pernah peduli ke aku
bahkan seujung jari pun enggak!
haaaaaaash!
bodo!
peduli apa kamu sama aku?
haha, kamu emang gak pernah peduli ke aku
bahkan seujung jari pun enggak!
Kamis, 03 Mei 2012
terimakasih
Dear Kitty
terimakasih untuk terus tidak mengerti aku
terimakasih untuk terus membuatku menunggu
terimakasih untuk terus membawa terbang dan menjatuhkanku
terimakasih untuk terus membuat aku berharap
terimakasih untuk terus menyakitiku
terimakasih untuk terus membuatku berusaha untukmu
terimakasih untuk terus membuatku menangis
terimakasih untuk terus membuatku marah
terimakasih untuk terus membuatku kecewa
terimakasih untuk terus membuatku kalah
terimakasih untuk segalanya
ya, hanya terimakasih yang bisa ku ucapkan
terimakasih untuk terus tidak mengerti aku
terimakasih untuk terus membuatku menunggu
terimakasih untuk terus membawa terbang dan menjatuhkanku
terimakasih untuk terus membuat aku berharap
terimakasih untuk terus menyakitiku
terimakasih untuk terus membuatku berusaha untukmu
terimakasih untuk terus membuatku menangis
terimakasih untuk terus membuatku marah
terimakasih untuk terus membuatku kecewa
terimakasih untuk terus membuatku kalah
terimakasih untuk segalanya
ya, hanya terimakasih yang bisa ku ucapkan
Rabu, 25 April 2012
kesempatan terakhir
Dear Kitty
kalo dibilang seneng, seneng banget aku
kalo ditanya sedih, sedih banget juga pastinya
gimana gak sedih coba
aku tanya perasaanmu gimana
kamu bilang gak bisa diungkapin
aku tanya kamu sayang aku apa enggak
kamu bilang bisa iya bisa enggak
maunya kamu itu apa?
oke fine, aku tau ini emang kesempatan terakhirmu
karena dua diantaranya kamu uda gagal
terus mentang-mentang ini terakhir kamu mau pake seenak jidatmu
mungkin kamu pikir ini ga penting
tapi ini penting banget buat aku
sekalinya kamu gagal lagi
aku kehilangan kesempatan buat sama kamu
jadi kembalilah kepadaku ketika kamu merasa memang saatnya kembali
ketika kamu menyadari aku yang terbaik
ketika kamu menyadari kamu sayang aku
bukan karena kamu ingin mlelarikan diri
bukan karena kamu mengasihaniku
kembalilah karena kamu sayang aku
karena ini yang terakhir
kalo dibilang seneng, seneng banget aku
kalo ditanya sedih, sedih banget juga pastinya
gimana gak sedih coba
aku tanya perasaanmu gimana
kamu bilang gak bisa diungkapin
aku tanya kamu sayang aku apa enggak
kamu bilang bisa iya bisa enggak
maunya kamu itu apa?
oke fine, aku tau ini emang kesempatan terakhirmu
karena dua diantaranya kamu uda gagal
terus mentang-mentang ini terakhir kamu mau pake seenak jidatmu
mungkin kamu pikir ini ga penting
tapi ini penting banget buat aku
sekalinya kamu gagal lagi
aku kehilangan kesempatan buat sama kamu
jadi kembalilah kepadaku ketika kamu merasa memang saatnya kembali
ketika kamu menyadari aku yang terbaik
ketika kamu menyadari kamu sayang aku
bukan karena kamu ingin mlelarikan diri
bukan karena kamu mengasihaniku
kembalilah karena kamu sayang aku
karena ini yang terakhir
Langganan:
Postingan (Atom)